KABUPATEN SEMARANG, salatiga24.com – Bendera Merah Putih sepanjang sekitar satu kilometer dibentangkan mengelilingi Candi IV Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Rabu (28/10/2026). Pembentangan bendera ini menjadi puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda yang digelar masyarakat adat Jawa Tengah dengan membawa pesan persatuan dan pelestarian alam.
Sebelum pembentangan bendera, para peserta mengikuti upacara di pelataran Candi IV Gedongsongo. Rombongan berjalan dari titik paling bawah kompleks candi dengan membawa replika burung Garuda, dua bendera Merah Putih, serta gulungan bendera berukuran panjang yang dipikul sejumlah pemuda dan budayawan.
Upacara berlangsung khidmat dengan seluruh rangkaian menggunakan bahasa Jawa. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi Sumpah Bumi yang disampaikan Ki Renggo sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan manusia.
Te Tuonggo sekaligus inspektur upacara, Sang Edo, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk mengenalkan nilai-nilai pelestarian alam dan cagar budaya kepada generasi muda.
“Kami mengadakan kegiatan ini di Gedongsongo untuk memberikan contoh, wawasan, dan pengetahuan terkait pelestarian alam dan cagar budaya, termasuk peninggalan leluhur kepada generasi yang akan datang,” kata Edo kepada salatiga24.com.
Menurutnya, kawasan pegunungan memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, mulai dari menyediakan tanah yang subur hingga menjadi sumber air. Karena itu, kelestarian alam perlu dijaga bersama.
“Harapannya, pemuda-pemudi Indonesia bisa menggali lebih dalam tentang kelestarian lingkungan. Gunung, tanah yang subur, dan air yang mengalir menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Itu yang utama,” tuturnya.
Singgung Pelestarian Alam dan Proyek Geothermal
Edo menegaskan, upacara tersebut tidak secara langsung digelar untuk merespons rencana proyek geothermal Gunung Ungaran. Namun, ia berharap pesan pelestarian alam yang disampaikan melalui kegiatan budaya dapat menjadi pengingat bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pembangunan.
“Jangan sampai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akhirnya merusak kelestarian alam. Secara tidak langsung, kami memberikan pesan agar pemerintah juga memberikan ruang kepada kami untuk ikut serta menjaga kelestarian alam,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah mempertimbangkan kembali rencana proyek geothermal tersebut dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan generasi mendatang.
Penggunaan bahasa Jawa dalam upacara ini, lanjut Edo, merupakan upaya mengangkat kearifan lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda.
“Tadi pakai bahasa Jawa. Sebagai warga Jawa, kami berusaha mengangkat kearifan lokal,” katanya.
Ketua DPRD Apresiasi Upacara Budaya
Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening, mengapresiasi penyelenggaraan upacara kebudayaan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana merawat tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan pelestarian lingkungan melalui pendekatan kebudayaan.
“Kami mengapresiasi karena tujuannya untuk pelestarian lingkungan. Ada juga acara ngaji budaya,” tutur Bondan.
Terkait aspirasi masyarakat mengenai rencana proyek geothermal Gunung Ungaran, Bondan menilai setiap aspirasi perlu dihargai selama disampaikan dengan cara yang baik dan tetap mengedepankan etika.
“Aspirasi soal geothermal juga harus kita hargai dari semua elemen masyarakat, selama disampaikan dengan etika dan cara yang baik. Itu merupakan bentuk penyampaian aspirasi dari masyarakat,” katanya.
Bondan juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan masukan kepada DPRD Kabupaten Semarang mengenai pelestarian lingkungan dari perspektif kebudayaan.
Pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang sekitar satu kilometer mengelilingi Candi IV Gedongsongo menjadi penutup rangkaian kegiatan. Peristiwa tersebut sekaligus menegaskan pesan bahwa semangat persatuan, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap alam perlu terus diwariskan kepada generasi mendatang.

